by Rianto Astono

Hi, pada tulisan kali ini, saya akan coba menjelaskan mengapa mulai sekarang saya akan menerapkan satu prinsip terpenting dalam hidup, yaitu berhenti memberikan utang kepada orang lain, termasuk kepada teman atau kerabat saya.

Yup. Betul. Anda tak salah baca. Ini bukan saran yang akan membuat Anda jadi manusia yang kejam dan jahat, apalagi kikir. Sebaliknya, ini adalah saran yang akan membuat hidup Anda menjadi jauh lebih tenang, mudah, dan bebas dari masalah yang tak perlu.

Kita akan coba membahas prinsip utang, jenis-jenis utang, dan bagaimana kita tidak seharusnya terlibat dalam urusan ini.

Saya akan memberi tahu, mengapa memberi itu jauh lebih baik daripada mengutangi, dan bagimana kita harus menerapkannya secara konsisten, sebagai salah satu prinsip dan mindset terpenting dalam hidup kita.

Mari kita mulai.

Jangan beri hutang kalau Anda tak kuat menagihnya.

Saya tidak sedang membela siapa-siapa, apalagi membenarkan tindak kekerasan dan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh oknum-oknumnya. Tapi, pernahkah Anda berpikir mengapa bank, leasing, lembaga keuangan bahkan hingga rentenir harus repot-repot dan capek-capek mempekerjakan jasa debt collector untuk menagih utang?
Catatan ya, saya tidak sedang membahas tentang hukum riba di sini.

Tak sulit menjawabnya: karena orang yang ngutang memang suka lupa ingatan. Pura-pura lupa.

Menagih orang yang ngutang itu: lebih sulit dari yang paling sulit, ampun-ampunan. Lebih rumit dari yang paling rumit. Udah ngomongnya gak enak. Ditahan bikin nyesek. Lebih nyebelin dari yang paling nyebelin. Nagih utang kok rasanya kayak mengemis. Padahal uang, ya uang kita.

Lalu pertanyaannya, kenapa begitu? Padahal kalau Anda ngutang biasanya Anda tak usah ditagih sudah bayar, tepat waktu, gak bisa tidur kalau masih punya utang. Pusing mikirin utang dan kepingin segera melunasinya, bener kan?

Maka prinsip selanjutnya mengenai utang: Jangan gunakan diri Anda sebagai standar. Standar Anda bukan standar untuk semua orang!

Faktanya, tukang utang, yang dikit-dikit ngutang, dikit-dikit ngutang, mayoritas juga tukang lupa. Dikit-dikit lupa, dicari susah, ditagih apalagi. Kadang cuma tebar janji dan ngomong gak ada uang. Tapi postingan di sosmednya kece-kece. Hidupnya foya-foya. Buset.

Maka sekali lagi: Jangan beri utang kalau Anda tak kuat menagihnya.

UTANG MAKAN

Ini adalah jenis utang yang pantas dan wajar. Utang makan berarti utang yang berasal dari orang-orang yang sedang terkena musibah. Teman atau keluarga yang sedang kesusahan, hingga untuk membeli makan dan memenuhi kebutuhan mendasar saja sangat kesulitan, ini juga termasuk orang asing yang nyasar di jalan, orang-orang sakit dan sejenisnya. Seluruhnya itu layak untuk mendapatkan bantuan, utang, pinjaman, dan bahkan pemberian. Saya menyebutnya utang makan.

Jika menemui yang seperti ini, bukan cuma harus, tapi kita memang wajib untuk memberikan bantuan yang kita bisa. Dalam berbagai kasus yang umum, kita dapat mengubah mindset meminjamkan utang menjadi memberikan uang sebanyak yang kita bisa dan ikhlaskan.

Dengan prinsip membantu, maka kita akan bertanya berapa yang dibutuhkan, lalu menghitung berapa yang sanggup kita berikan sebagai utang, sambil dalam hati mengikhlaskannya tanpa mengharap uang tersebut kembali.

Dengan niat memberi, itu akan membantu kita dan orang yang kita pinjami untuk terbebas dari beban yang tak perlu di masa mendatang.

Tapi toh bukan utang yang seperti itu yang kerap kita temukan, bukan? Tetapi utang jenis lain yang aduhai… sungguh menjengkelkan.

UTANG-UTANGAN

Utang-utangan sering kali untuk keperluan yang random abis. Ada banyak sekali jenis utang yang tidak seharusnya eksis. Dari hutang untuk membeli barang-barang yang tidak perlu, utang untuk membayar utang, sampai utang untuk usaha.

Anda mungkin Bang Toyib, Bang Rozak, atau Bang Nurdin. Tapi Anda bukan BANK.

Maka bukan tugas Anda meminjamkan uang untuk membeli produk-produk yang bersifat konsumtif, atau kebutuhan usaha yang produktif sekalipun. Saya tahu tak sedikit orang yang berhati baik, tidak sombong, salalu mendukung teman, dan suka menolong. Tapi suka menolong tidak sama dengan suka ngutanging dong. Itu beda jauh.

Tolong-menolong sesama teman dapat memberikan kebahagiaan, tapi utang-mengutang sesama teman/kerabat akan merusak persaudaraan. Jika Anda meminjamkan uang untuk menolong, ada banyak hal lain yang dapat dilakukan selain meminjamkan uang, Anda dapat mendukung usahanya, membeli produknya, memberi saran, atau menemaninya saat berjualan.

Jika Anda meminjamkan uang untuk menanam budi baik agar dapat ditolong lain kali saat Anda membutuhkan pinjaman. Maka percayalah, itu tak akan terjadi kecuali Anda juga tukang utang.

Jika Anda meminjamkan uang untuk memberitahu kalau Anda punya banyak uang, ah bodoh kali, gak ngotaklah itu.

Jika Anda meminjamkan uang karena teman membawa jaminan, menjanjikan bunga, ya… kan sudah dibilang kalau Anda itu bukan bank.

Sesungguhnya memang tidak terlalu banyak hal positif dari sikap saling utang-mengutangi sesama teman dan kerabat.

Sebab janji tinggal janji. Manis saat meminjam uang tak berarti manis saat mengembalikannya.

Faktanya, ada banyak utang yang berakhir tak dibayar, atau harus ditagih setengah mati. Padahal itu uang Anda, yang Anda hasilkan dengan keringat, waktu dan perjuangan Anda.

Anda mungkin punya rencana untuk uang tersebut, Anda sudah mengeluarkan tenaga untuk mendapatkannya. Kenapa Anda harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mendapatkannya kembali?

Maka, lain kali, kalau ada orang, teman atau kerabat yang ingin ngutang, tapi gak masuk dalam kriteria “utang makan”. Beritahu mereka jika tidak ngutang teman dan tidak memberi teman atau kerabat utang adalah salah satu prinsip dalam hidup Anda.

Sekali lagi, beritahu dengan lantang dan tegas:
“Tidak ngutang teman dan tidak memberi teman utang adalah prinsip hidupku!”

Tunjukkan tulisan ini jika perlu! Dan jangan pernah khawatir dengan prinsip tersebut.

Percayalah, ini adalah salah satu prinsip hidup yang akan membuat Anda hidup jauh lebih tenang, lebih bijak, dan lebih bahagia di kemudian hari.

Saya, Yayan Fauzi, saya anti utang-mengutang sesama teman atau kerabat.


Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki utang satu dinar atau satu dirham, maka utang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” — HR Ibnu Majah, Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih

“Aku wasiatkan kepada kalian agar tidak berutang meskipun kalian merasakan kesulitan, karena sesungguhnya utang adalah kehinaan di siang hari, kesengsaraan di malam hari.” — Umar bin Abdul Aziz

Ibnul Qoyyim dalam al-Fawa’id (hal. 57, Darul Aqidah) mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan kepada Allah dari berbuat dosa dan banyak utang karena banyak dosa akan mendatangkan kerugian di akhirat, sedangkan banyak utang akan mendatangkan kerugian di dunia.”

Inilah do’a yang seharusnya kita amalkan agar terlindung dari utang: ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang).

Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berutang (yang ingin melunasi utangnya) sampai dia melunasi utang tersebut selama hutang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” — HR. Ibnu Majah, Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih

Ya Allah, lindungilah kami dari berbuat dosa dan beratnya utang, mudahkanlah kami untuk melunasinya. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *