Udzur-Udzur Syar’i Bolehnya Meninggalkan Shalat Jum’at dan Jama’ah

Oleh Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan hafizhahullahu ta’ala


Penjelasan tentang udzur-udzur yang memperbolekan seseorang meninggalkan shalat Jum’at dan shalat Jama’ah. Segala puji bagi Allah yang telah memerintahkan kita untuk mentaati-Nya da melarang kita dari bermaksiat kepada-Nya. Dzat yang tidak menjadikan kesusahan dalam agama. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam, dengan agama yang lurus dan mudah. Begitu juga kepada keluarga, sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman, amma ba’du.

Agama Islam merupakan agama kemudahan dan agama rahmat. Allah telah mensyariatkan di dalamnya segala sesuatu yang sesuai dengan kondisinya. Allah juga telah membebaskan umat Islam dari beban dan belenggu yang pernah ada pada umat sebelumnya. Ketika mensifati Nabi umat Islam (Muhammad ﷺ), Allah berfirman, 

وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ
“Dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu
yang ada pada mereka” (QS. al-A’raf:157)

Ilustrasi: Suasana di Masjid Nabawi (Madinah)

Di antara syariat-Nya, Allah telah mewajibkan Shalat Jum’at dan Shalat Jama’ah secara fardu ‘ain kepada laki-laki, kecuali apabila ada halangan yang memberatkan atau menyusahkan. Apabila ada halangan, barulah ada kemudahan dan keringanan sehingga seorang muslim diberi udzur untuk meninggalkan keduanya dikarenakan udzur-udzur syar’i yang ada tersebut.

Di antara udzur tersebut adalah sakit yang menyusahkan untuk menghadiri shalat. Dahulu Nabi ﷺ ketika sakit, beliau juga tidak hadir shalat. Ketika itu beliau hanya mengatakan, “Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi Imam.” (HR. Bukhari no. 664 dan Muslim no. 418)

Di sini ada dalil bolehnya orang sakit untuk tidak menghadiri shalat. Dalam hadits yang lain, “Siapa yang mendengar adzan, tapi tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali apabila ada udzur”. Orang-orang bertanya, “Apa udzurnya?”, beliau ﷺ menjawab, “Rasa takut dan sakit” (HR. Abu Dawud no. 551 dengan sanad yang shahih). Ibnu Mundzir berkata, “Aku tidak mengetahui ada perbedaan pendapat di kalangan Ahli Ilmu terkait bolehnya orang sakit ntuk tidak hadir jama’ah.” (Lihat al-Mughni 1/451). Termasuk di dalamnya orang yang takut sakit. Ia juga mendapatkan udzur untuk tidak Shalat Jum’at dan Jama’ah. Karena takut sakit semakna dengan orang sakit. Begitu juga apabila ia takut sakitnya akan semakin parah atau menjadi lama sembuh. 

Udzur untuk meninggalkan Shalat Jum’at dan Shalat Jama’ah, juga diberikan kepada orang yang tidak mampu berjalan menuju ke Masjid karena sudah lanjut usia atau ada cacat. Namun, apabila ada alat bantu yang dapat membawanya ke Masjid, wajib baginya untuk hadir Shalat Jum’at, karena Shalat Jum’at ini tidak berulang dan tidak ada gantinya.

Udzur untuk meninggalkan Shalat Jum’at dan Shalat Jama’ah, juga diberikan kepada orang yang sedang menahan kencing atau BAB, Ia sudah sangat ingin kencing misalnya, apabila ditahan, akan memberikan dampak buruk. Udzur ini diberikan karena hal ini akan menghalangi kesempurnaan shalat dan kekhusyu’annya. Udzur ini berdasarkan hadits, “Tidak ada shalat saat makanan dihidangkan, begitu juga saat seorang menahan kencing atau BAB.” (HR. Muslim no. 560). Apabila ia telah selesai menunaikan hajatnya dan Shalat Jum’at atau Shalat Jama’ah belum selesai, maka ia wajib menghadiri shalat tersebut, karena udzurnya telah hilang.

Udzur untuk meninggalkan Shalat Jum’at dan Shalat Jama’ah, juga diberikan kepada orang yang sedang dihidangkan makanan yang ia perlukan, Berdasarkan hadits Anas رضي الله عنه dalam Shahih Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah  bersabda, “Apabila makan malam telah dihidangkan, maka makanlah sebelum kalian melakukan Shalat Maghrib, dan jangan tergesa-gesa untuk menyelesaikan makan malam kalian.” ( HR. Bukhari no. 672 dan Muslim no. 557). Dalam hadits Ibnu Umar, “Apabila makan malam telah diletakkan, dan shalat telah ditegakkan, maka mulailah makan malam terlebih dahulu. Jangan tergesa-gesa, sampai kalian selesai.” (HR. Bukhari no. 673). Dalam lafadz yang lain, “Sampai kalian menunaikan hajat kalian.”

Penyebutan Shalat Maghrib pada hadits ini, tidak menjadikan hukumnya terkhusus pada shalat itu saja. Tapi, hadits ini umum untuk semua shalat, karena illah (alasannya) sama. Yaitu pikiran yang membuat tidak khusyu’. Udzur ini juga berdasarkan hadits, “Tidak ada shalat saat makanan dihidangkan”, dan lafadz hadits ini umum. Dan ketahuilah, tidak boleh menyengaja untuk menjadwalkan waktu makan yang bertabrakan dengan waktu Shalat Jama’ah. Udzur ini hanya diberikan ketika terjadi secara kebetulan dan tanpa kesengajaan. Adapun, menjadwalkan makan setiap kali waktu shalat datang, maka tidak diperbolehkan, dan Shalat Jama’ah tetap tidak boleh ditinggalkan karenanya. Karena sabda beliau, “Apabila makan malam telah diletakkan”, dan “Apabila makan malam telah dihidangkan”, memberikan pelajaran, apabila hal tersebut terjadi kebetulan tanpa kesengajaan. Wallahu a’lam.

Di antara udzur yang menggugurkan kewajiban Shalat Jum’at dan Shalat Jama’ah, adalah takut kehilangan harta, terlewatkan, atau ada yang membahayakannya. Contoh, seorang yang takut akan pencuri atau srigala (yang memangsa ternaknya), atau seorang yang takut rusaknya hasil panen ketika dijemur (karena kehujanan), atau tidak ada orang lain yang menjaga ternaknya, dan semisalnya. Contoh lain, seorang yang berprofesi sebagai hansip yang disewa untuk menjaga harta, lalu takut harta tersebut hilang apabila ia pergi meninggalkannya untuk shalat. Dan udzur-udzur ini diberikan apabila halangan tersebut terjadi kebetulan (jarang) dan memang ada keharusan. Adapun menyengaja atau tidak ada keharusan, maka tidak sepantasnya menyengaja meninggalkan apa yang telah Allah wajibkan atasnya.

Udzur untuk meninggalkan Shalat Jum’at dan Shalat Jama’ah, juga diberikan kepada orang yang merawat orang sakit. Apabila ia tinggal, orang sakit tersebut akan mati atau akan kesusahan, padahal tidak ada perawat yang lainnya.

Udzur juga diberikan kepada orang yang khawatir terhadap keluarga, anak, atau dirinya sendiri dari binatang buas atau musuh yang mengancam. Udzur juga diberikan, apabila seorang terhalangi lumpur, hujan, salju, maupun hujan es yang di luar kebiasaan. Berdasarkan hadits Ibnu Umar, bahwa, “Nabi   pada waktu malam yang dingin atau malam turun hujan, beliau memerintahkan muadzinnya, untuk menyerukan:

صَلُّوا فِى رِحَالِكُمْ

Shalatlah di rumah-rumah kalian” (HR. Ibnu Majah no. 937 dengan sanad yang shahih).

Dalam dua kitab shahih, dari Ibnu Abbas, “Beliau mengatakan kepada muadzinnya ketika hari turun hujan: Apabila kamu mengumandangkan, Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, jangan kamu serukan:

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ
(mari kita menuju shalat)

tapi serukan,

صَلُّوا فِى رِحَالِكُمْ
(shalatlah di rumah-rumah kalian)


seakan-akan orang-orang ketika itu tidak setuju dengan beliau”, maka beliau mengatakan, “Orang yang lebih baik dariku (Nabi), telah melakukannya, dan aku tidak suka mengeluarkan kalian dari rumah lalu melewati lumpur dan jalan yang licin” (Lihat HR. Bukhari no. 901 dan Muslim no. 699)

Pendengar yang mulia, semua ini dijadikan sebagai udzur, untuk meninggalakn Shalat Jum’at dan Shalat Jama’ah, sebagai bentuk kemudahan dan rahmat bagi hamba, dan karena di antara syarat sahnya shalat adalah seorang dapat menghayati dan memahami shalatnya. Namun, hal-hal ini tadi menghalangi itu semua. Apabila udzur-udzur tersebut telah hilang, maka shalat dapat dilaukan dengan khusyu’ yang sempurna, dan mengerjakan shalat dengan khusyu’ yang sempurna di luar jama’ah, lebih utama dari pada mengerjakannya bersama jama’ah namun tanpa kesempurnaan khusyu’.

Demikian, kita memohon kepada Allah agar menganugerahkan taufik dan hidayah kepada kita semua, dan menjaga kita untuk selalu Shalat Jum’at dan Shalat Jama’ah.

Dari penjelasan ini, semakin jelaslah kewajiban untuk hadir Shalat Jum’at dan Shalat Jama’ah. Dan tidak diberi udzur, kecuali orang-orang yang benar-benar memiliki udzur syar’i yang membolehkannya. Dan sampai berjumla lagi pada pertemuan berikutnya dengan izin Allah, alhamdulillahirabbil ‘alamin, shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
(semoga keselamatan, rahmat, dan keberkahan
selalu terlimpahkan kepada kalian semua)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *